KERAJAAN MATARAM ISLAM
A. AWAL BERDIRINYA KERAJAAN MATARAM ISLAM
Pada
awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai
oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah
tersebut diberikan oleh Pangeran
Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas
jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang
munculnya kerajaan Pajang.
Ki
Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya
yang juga mengabdi kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal
raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya
menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede tersebut.
Setelah
pemerintahan Hadiwijaya di Pajang
berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak
yang merupakan keturunan dari Raden Trenggono.
Akibat
dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai Pajang
melepaskan diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran Benowo meminta
bantuan kepada Sutawijaya.
Atas
bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena
ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya
kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai
kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram.
Lokasi
kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota
Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang.
B. SUMBER SEJARAH MATARAM
ISLAM
Sumber sejarah mengenai periode kerajaan Pajang dan permulaan kerajaan Mataram Islam sebenarnya sangat terbatas. Sumber tersebut sebagian besar terdiri dari naskah-naskah Babad, Serat ataupun tradisi lisan. Sumber asing baik dari Portugis pada abad ke 16 dan permulaan abad ke 17 sebagian besar hanya menyinggung kejadian-kejadian di kota-kota pantai, baik yang mengenai kegiatan perdagangan ataupun sedikit mengenai kerajaan. Oleh karena itu untuk menguraikan sejarah timbulnya kerajaan Mataram Islam terpaksa hanya didasarkan atas sumber-sumber dalam negeri tersebut.
Sumber sejarah mengenai periode kerajaan Pajang dan permulaan kerajaan Mataram Islam sebenarnya sangat terbatas. Sumber tersebut sebagian besar terdiri dari naskah-naskah Babad, Serat ataupun tradisi lisan. Sumber asing baik dari Portugis pada abad ke 16 dan permulaan abad ke 17 sebagian besar hanya menyinggung kejadian-kejadian di kota-kota pantai, baik yang mengenai kegiatan perdagangan ataupun sedikit mengenai kerajaan. Oleh karena itu untuk menguraikan sejarah timbulnya kerajaan Mataram Islam terpaksa hanya didasarkan atas sumber-sumber dalam negeri tersebut.
C. KEHIDUPAN POLITIK
Pendiri kerajaan Mataram adalah Sutawijaya. Ia bergelar Panembahan Senopati, memerintah tahun (1586 – 1601). Pada awal pemerintahannya ia berusaha menundukkan daerah-daerah seperti Ponorogo, Madiun, Pasuruan, dan Cirebon serta Galuh. Sebelum usahanya untuk memperluas dan memperkuat kerajaan Mataram terwujud, Sutawijaya digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelar Sultan Anyakrawati tahun 1601 – 1613.
Sebagai
raja Mataram ia juga berusaha meneruskan apa yang telah dilakukan oleh
Panembahan Senopati untuk memperoleh kekuasaan Mataram dengan menundukkan
daerah-daerah yang melepaskan diri dari Mataram. Akan tetapi sebelum usahanya
selesai, Mas Jolang meninggal tahun 1613 dan dikenal dengan sebutan Panembahan
Sedo Krapyak. Untuk selanjutnya yang menjadi raja Mataram adalah Mas
Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati ing alogo Ngabdurrahman,
yang memerintah tahun 1613 – 1645. Sultan Agung merupakan raja terbesar dari kerajaan
ini. Pada masa pemerintahannya Mataram mencapai puncaknya, karena ia seorang
raja yang gagah berani, cakap dan bijaksana.
Pada
tahun 1625 hampir seluruh pulau Jawa dikuasainya kecuali Batavia dan Banten.
Di
samping mempersatukan berbagai daerah di pulau Jawa, Sultan Agung juga berusaha
mengusir VOC Belanda dari Batavia. Untuk itu Sultan Agung melakukan penyerangan
terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 akan tetapi serangan tersebut
mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan serangan terhadap VOC antara lain
karena jarak tempuh dari pusat Mataram ke Batavia terlalu jauh kira-kira
membutuhkan waktu 1 bulan untuk berjalan kaki, sehingga bantuan tentara sulit
diharapkan dalam waktu singkat. Dan daerah-daerah yang dipersiapkan untuk
mendukung pasukan sebagai lumbung padi yaitu Kerawang dan Bekasi dibakar oleh
VOC, sebagai akibatnya pasukan Mataram kekurangan bahan makanan. Dampak
pembakaran lumbung padi maka tersebar wabah penyakit yang menjangkiti pasukan
Mataram, sedangkan pengobatan belum sempurna. Hal inilah yang banyak
menimbulkan korban dari pasukan Mataram. Di samping itu juga sistem
persenjataan Belanda lebih unggul dibanding pasukan Mataram.
Untuk
selanjutnya silahkan Anda diskusikan dengan teman-teman Anda mencari penyebab
kegagalan yang lain serangan Mataram ke batavia. Hasil diskusi Anda dapat
dikumpulkan pada guru bina Anda dan kemudian lanjutkan menyimak uraian materi
selanjutnya.
Walaupun
penyerangan terhadap Batavia mengalami kegagalan, namun Sultan Agung tetap
berusaha memperkuat penjagaan terhadap daerah-daerah yang berbatasan dengan
Batavia, sehingga pada masa pemerintahannya VOC sulit menembus masuk ke pusat
pemerintahan Mataram.
Setelah
wafatnya Sultan Agung tahun 1645, Mataram tidak memiliki raja-raja yang cakap
dan berani seperti Sultan Agung, bahkan putranya sendiri yaitu Amangkurat I dan
cucunya Amangkurat II, Amangkurat III, Paku Buwono I, Amangkurat IV, Paku
Buwono II, Paku Buwono III merupakan raja-raja yang lemah. Sehingga
pemberontakan terjadi antara lain Trunojoyo 1674-1679, Untung Suropati
1683-1706, pemberontakan Cina 1740-1748.
Kelemahan
raja-raja Mataram setelah Sultan Agung dimanfaatkan oleh penguasa daerah untuk
melepaskan diri dari kekuasaan Mataram juga VOC. Akhirnya VOC berhasil juga
menembus ke ibukota dengan cara mengadu-domba sehingga kerajaan Mataram
berhasil dikendalikan VOC.
VOC
berhasil menaklukan Mataram melalui politik devide et impera, kerajaan Mataram
dibagi dua melalui perjanjian Gianti tahun 1755. Sehingga Mataram yang luas
hampir meliputi seluruh pulau Jawa akhirnya terpecah belah :
1. Kesultanan Yogyakarta, dengan Mangkubumi sebagai raja yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
2. Kasunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Paku Buwono III.
1. Kesultanan Yogyakarta, dengan Mangkubumi sebagai raja yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
2. Kasunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Paku Buwono III.
Belanda
ternyata belum puas memecah belah kerajaan Mataram. Akhirnya melalui politik
adu-domba kembali tahun 1757 diadakan perjanjian Salatiga. Mataram terbagi 4
wilayah yaitu sebagian Surakarta diberikan kepada Mangkunegaran selaku Adipati
tahun 1757, kemudian sebagian Yogyakarta juga diberikan kepada Paku Alam selaku
Adipati tahun 1813.
D. KEHIDUPAN
EKONOMI
Letak kerajaan Mataram di pedalaman, maka Mataram berkembang sebagai kerajaan agraris yang menekankan dan mengandalkan bidang pertanian. Sekalipun demikian kegiatan perdagangan tetap diusahakan dan dipertahankan, karena Mataram juga menguasai daerah-daerah pesisir. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah persawahan yang luas terutama di Jawa Tengah, yang daerahnya juga subur dengan hasil utamanya adalah beras, di samping kayu, gula, kapas, kelapa dan palawija. Sedangkan dalam bidang perdagangan, beras merupakan komoditi utama, bahkan menjadi barang ekspor karena pada abad ke-17 Mataram menjadi pengekspor beras paling besar pada saat itu.
Letak kerajaan Mataram di pedalaman, maka Mataram berkembang sebagai kerajaan agraris yang menekankan dan mengandalkan bidang pertanian. Sekalipun demikian kegiatan perdagangan tetap diusahakan dan dipertahankan, karena Mataram juga menguasai daerah-daerah pesisir. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah persawahan yang luas terutama di Jawa Tengah, yang daerahnya juga subur dengan hasil utamanya adalah beras, di samping kayu, gula, kapas, kelapa dan palawija. Sedangkan dalam bidang perdagangan, beras merupakan komoditi utama, bahkan menjadi barang ekspor karena pada abad ke-17 Mataram menjadi pengekspor beras paling besar pada saat itu.
E.KEHIDUPAN
SOSIAL BUDAYA
Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya. Untuk melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan keluarga istana, yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah garapan. Tanah lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan yang menggarapnya atau mengerjakannya adalah rakyat atau petani penggarap dengan membayar pajak/sewa tanah. Dengan adanya sistem feodalisme tersebut, menyebabkan lahirnya tuan-tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-tanah yang dikuasainya. Sultan memiliki kedudukan yang tinggi juga dikenal sebagai panatagama yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat. Hal ini terlihat dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung.
Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya. Untuk melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan keluarga istana, yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah garapan. Tanah lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan yang menggarapnya atau mengerjakannya adalah rakyat atau petani penggarap dengan membayar pajak/sewa tanah. Dengan adanya sistem feodalisme tersebut, menyebabkan lahirnya tuan-tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-tanah yang dikuasainya. Sultan memiliki kedudukan yang tinggi juga dikenal sebagai panatagama yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat. Hal ini terlihat dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung.
Contoh
lain hasil perpaduan budaya Hindu-Budha-Islam adalah penggunaan kalender Jawa,
adanya kitab filsafat sastra gending dan kitab undang-undang yang disebut Surya
Alam. Contoh-contoh tersebut merupakan hasil karya dari Sultan Agung sendiri.
Di
samping itu juga adanya upacara Grebeg pada hari-hari besar Islam yang ditandai
berupa kenduri Gunungan yang dibuat dari berbagai makanan maupun hasil bumi.
Upacara Grebeg tersebut merupakan tradisi sejak zaman Majapahit sebagai tanda
terhadap pemujaan nenek moyang.
Raja-Raja
Mataram Islam :
1. Panembahan Senopati (1584-1601 M)
2. Mas Jolang atau Seda Ing Krapyak (1601- 1613 M)
3. Mas Rangsang dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646 M)
4. Amangkurat I (1646- 1676 M)
5. Amangkurat II dikenal juga sebagai Sunan Amral (1677- 1703 M)
6. Sunan Mas atau Amangkurat III pada 1703 M
7. Pangeran Puger yang bergelar Paku Buwana I (1703-1719 M)
8. Amangkurat IVdikenal sebagai Sunan Prabu (1719-1727 M)
9. Paku Buwana II (1727-1749 M)
10. Paku Buwana III pada 1749 M pengangkatannya dilakukan oleh VOC.
11. Sultan Agung.
2. Mas Jolang atau Seda Ing Krapyak (1601- 1613 M)
3. Mas Rangsang dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646 M)
4. Amangkurat I (1646- 1676 M)
5. Amangkurat II dikenal juga sebagai Sunan Amral (1677- 1703 M)
6. Sunan Mas atau Amangkurat III pada 1703 M
7. Pangeran Puger yang bergelar Paku Buwana I (1703-1719 M)
8. Amangkurat IVdikenal sebagai Sunan Prabu (1719-1727 M)
9. Paku Buwana II (1727-1749 M)
10. Paku Buwana III pada 1749 M pengangkatannya dilakukan oleh VOC.
11. Sultan Agung.

Selasa, 27 November 2012